Tantangan Paroki

1.Katekese Umat
Dalam pertemuan API, 29-30 September 2007, dari sharing peserta bahwa ada keprihatinan bersama mengenai pembekalan pengetahuan seputar ibadat dan liturgi. Para pemimpin ibadat menyadari bahwa tidak cukuplah mereka bermodalkan kemauan dan kerelaan. Mereka juga membutuhkan pengetahuan atau pembekalan lebih seputar ibadat dan liturgi.
Beberapa contoh pembekalan yang mereka rindukan adalah: Katekese Kitab Suci; pengetahuan iman; pengetahuan mengenai siapa itu lektor, pemazmur, derigen, serta arti penting mereka dalam ibadat/liturgi; pelatihan menjadi pemimpin ibadat, lektor, pemazmur, dan derigen yang baik dan benar; dan ada pelatihan koor di stasi-stasi yang kemampuan bernyanyinya kurang (hampir semua stasi).
Kerinduan ini juga menjadi kerinduan romo paroki. Beliau merasa belum puas dengan pelayanan yang selama ini telah dilakukan. Hampatan terbesarnya adalah terlalu banyaknya wilayah pelayanan dengan jarak dan medan yang jauh dan sulit. Salah satu contoh konkret  yang muncul dalam pertemuan API; ada seorang bapak  yang bersedia melakukan pendampingan seputar musik liturgi, tetapi ia terhalang oleh “uang bensin” lantaran begitu luas dan sulitnya wilayah paroki.

2.Perkawinan
Tantangan di atas sedikit banyak turut ambil peran dalam melahirkan fenomena kedangkalan iman di paroki ini. Hal yang cukup mencolok adalah soal trend pindah agama. Ada istilah keren untuk mereka yang pindah agama: “Muntaber” (mundur tanpa berita).
Trend yang melanda umat dari suku Batak adalah pindah agama dari Katolik ke agama Protestan. Mereka ini terpengaruh oleh “teologi” Protestan yang mengatakan bahwa “yang penting Yesus-nya sama”. Oleh karena kurangnya pendampingan (pengetahuan) iman dan iman yang kurang mendalam dari yang bersangkutan maka ia dengan enaknya loncat ke Gereja lain.
Sedangkan di kalangan umat Jawa, trendnya adalah nikah Islam. Ada beberapa  dari mereka yang awalnya berjanji untuk melakukan pembaruan nikah, tetapi di banyak kasus malah tidak ke gereja.