Sejarah Singkat Paroki St. Isidorus Singkut
Sejarah paroki St. Isidorus dimulai dengan kehadiran Gereja-gereja (umat Katolik) yang tersebar secara diaspora di berbagai wilayah. Gereja di Paroki Singkut sekarang ini dimulai dengan adanya para transmigran dari pulau Jawa dan pendatang dari Sumatera Utara (kebanyakan Batak Toba, ada juga Karo yang jumlahnya tidak terlalu banyak). Kedua suku tersebut memberikan warna terhadap terbentuknya Gereja. Para transmigran pada umumnya tinggal di pedesaan (wilayah Singkut dan Pamenang), sedangkan pendatang kebanyakan tinggal di kota (wilayah Sarolangun dan Bangko, ibukota kabupaten Sarolangun dan Merangin).
1. Gereja di wilayah Transmigrasi
1.1. Wilayah Singkut
Gereja di wilayah Singkut dimulai dengan kehadiran umat Katolik dalam rombongan para transmigran. Kehadiran Gereja di wilayah ini tidak serentak.
1.1.1. Singkut III (Stasi St. Isidorus)
Th 1975, datang transmigrasi awal (Singkut I), diantaranya ada 3 KK yang Katolik (FX. Rabingun, Dwijo Sumarto, Agustinus Sukino)
Th 1977, datang transmigrasi baru ke Unit III, desa Sabar Bakti kemudian terkenal menjadi desa Singkut III. Keluarga Katolik di kelompok transmigrasi ini ada 4 KK (Alex Temu Subagio, Harto Wiyono, Romanus Siswo Haryono, Yoseph Dadang, Purwanto). Saat mereka datang, Rm. Koijman SCJ datang menemui mereka. Mulai saat itu mereka mendapat kunjungan pastor dan mulai ada misa. Misa dan ibadat dilaksanakan di Transito, kebetulan KUPT pada waktu itu seorang Katolik yaitu bapak FX Sumanto.
Pada tahun yang sama bapak Tikno Raharjo, Tuharno, Harjono, Sugiarto, Narno, Siswanto, Mardi Wiyono, Parno Yoso resmi menjadi katekumen. Mereka belajar di rumah bapak Purwanto setiap malam jumat. Pada tahun ini ada baptisan; bulan April 3 orang, bulan Juni berjumlah 13, dan bulan September 12 orang (kelompok pak Tikno)
1978, ada katekumen baru, keluarga bapak Jumbadi yang dibaptis pada bulan Juli.
1979, ada isu “Kristenisasi”, isu tersebut mengatakan bahwa romo Koijman memberi hadiah kepada siapa saja yang mau dibaptis. Menurut analisa isu ini dikembangkan oleh oknum yang merasa tidak puas karena pimpinan proyek dipimpin oleh orang Katolik.
Pada awal tahun ada isu beberapa orang Katolik (Alex Temu Subagio, Tikno, Harto Wiyono, Atmorejo) di-blacklist oleh kelompok IV (Yusup Sopyan, Sudirman WH, Suhaemi, Sunarya). Kelompok empat ini minta tanda tangan masyarakat sebagai upaya mencari dukungan untuk menangkap mereka dan dibawa ke kecamatan.
Pertengahan tahun ini ada pergantian antara Rm. Koijman ke Rm. Van le Roop.
1.1.2. Singkut II (Stasi St. Yoseph)
Sejarah perkembangan Stasi St. Yoseph Singkut II sebagai berikut:
Gereja St. Yoseph Singkut II mulai tumbuh tahun 1976. Pada awal 1976 datanglah serombongan Transmigran dari Jawa, dalam rombongan itu terdapat beberapa umat Katolik. Ada 2 keluarga yaitu Kel. Ag. Djimin dan Kel. N. Suparno, ada juga 3 orang yang belum menikah yaitu Sdr. R.Y. Suyanto, Y.B. Widodo dan Yoseph Musiono (Yoseph Musiono setelah menikah masuk Islam). Tahun 1977 datang 1 warga Katolik bernama Antonius Sugiono.
Pada awalnya kegiatan doa dan Misa dilaksanakan dari rumah ke rumah. Romo pertama yang melayani di stasi ini adalah Romo Koijman, SCJ dari Jambi. Beliau melayani sampai dengan tahun 1979. Pada tahun 1979 bergabunglah 1 keluarga perantau dari Sumatera Utara yaitu Kel. M. Situmorang.
Sepeninggal Rm. Koijman, SCJ, stasi ini mulai dilayani oleh Rm. van Lierop, SCJ dari Muara Bungo. Beliau melayani sampai tahun 1981. Tongkat penggembalaan untuk tahun berikutnya dipegang oleh Rm. Walzaakz, SCJ dari Lubuk Linggau sampai tahun 1986.
Tahun 1982 stasi ini kedatangan 3 orang Katolik dari Jawa: P.C. Riyanto, C. Wartini dan Hadrianus Jimin. Mereka ini termasuk program pengangkatan guru-guru dari Jawa, diantaranya pada tanggal 5 Oktober 1986 ada baptisan dewasa yaitu Kel. Lukas Sarjan (6 jiwa). Pada tahun 1986 pelayanan dilayani oleh Rm. Henslock, SCJ sampai dengan tahun 1988 dan pada akhir 1988 pelayanan dilanjutkan oleh Rm. Freddy. Pr. Pada tanggal 27 Mei 1989 ada Baptisan baru sebanyak 3 keluarga (Kel. Markus Dano, Kel. Yakobus Partin dan Simon Karmidi) dengan jumlah jiwa sebanyak 14 jiwa, pada tahun 1989 ada penambahan jumlah umat para perantau sehingga menjadi 12 KK, dengan berkembangnya jumlah umat maka tahun 1989 mulailah dibangun Kapel, berkat kerja keras umat atas pengembalaan Rm. Freddy. Pr pada tanggal 23 November 1989 Kapel Stasi St. Yoseph Soudant. SCJ sekaligus penerimaan Sakramen Krisma. Selanjutnya dengan berkembangannya daerah Singkut maka jumlah umat pendatang pun semakin banyak 2006 Kapel yang berukuran 6m x 13 m dirasa sudah sangat sempit, maka dilakukan pengembangan Kapel menjadi 14 m x 22 m. Sampai dengan akhir tahun 2007 jumlah umat menjadi 51 KK dengan jumlah jiwa 217 jiwa (laki-laki 104, perempuan 113).
1.1.3. Singkut V (Stasi St. Maria Rosari)
Gereja di wilayah ini lahir berkat kehadiran para tranmigran dari Kabupaten Batul dan Kulon Progo pada tahun 1978. Diantara para transmigran tersebut terdapat 5 KK, yang memiliki iman Katolik. 2 KK dari Kab Kulon Progo (Kel Bpk Yustinus Herman, Kel bpk Ratimin, Kel bpk Jr. Ngatiman) dan 2 KK dari Kab Bantul (Kel Bpk FX. Kamari dan Kel bpk Sudarto)
Pada awalnya mereka digembalakan oleh romo Koyman SCJ. Mereka mendapat pelayanan misa satu bulan sekali. Ibadat dan misa bergilir dari rumah umat yang satu ke yang lain. Romo Kojman melayani dari kota Jambi.
Pada tahun 1979, datang lagi umat Katolik 1KK dari kabupaten Gunung Kidul, yaitu kelurga bapak YB Hartowiyono. Pada tahun ini pula pelayanan pastoral digembalakan dari Paroki Penyelenggaraan Illahi Lubuk Linggau oleh Rm Van leroof SCJ.
1.1.4. Singkut VII B (Stasi St. Maria)
Gereja di wilayah ini dimulai dengan kehadiran transmigran dari Gunung Kidul (Wonosari) pada tanggal, 01 Oktober 1979. Diantara transmigran itu terdapat 5 KK umat Katolik, dengan jumlah jiwa 14 orang. Berbulan-bulan mereka belum menemukan gembala umat. Namun mereka selalu berkumpul untuk mengadakan doa bersama, secara bergilir.
Hari selasa pertengahan tahun 1981, mereka baru menemukan gembala umat di rumah keluarga Condro Suseno, yaitu romo Hadi Prawiro SCJ atau romo Van Leroop. Setelah pertemuan ini umat Katolik Wilayah VII B dapat mengikuti misa 1 bulan sekali.
1.1.5. Singkut VII D
1.2. Wilayah Pamenang
1.2.1. Pamenang B2 (Stasi St. Petrus et Paulus)
Stasi di daerah transmigrasi ini berjarak 20 km dari jalan lintas Sumatera. Masyarakat transmigrasi ini masuk ke daerah Pamenang unit IV, B2, kemudian lebih terkenal sebagai Pamenang B2 pada bulan Desember 1979. Sebenarnya nama desa mereka tinggal ini adalah Rasau namun lebih terkenal Pamenang B2.
Umat Katolik di stasi ini, mulanya berjumlah 7 KK (Placidus Slamet, Agustinus Sartono, Narno Siswanto, FX. Yanto, Sunarto, Andreas Slamet, Siswo Winaryo) Mereka dari paroki Maria Assumpta Klaten kecuali Siswo Winaryo berasal Gubuk Boyolali.
Pada awalnya mereka beribadat bersama, eukemene (Katolik, Pentakosta, GKJ, Kerasulan Baru). Ibadat eukemene dipimpin oleh PDT Darmanto. Tempat ibadat di SD. INPRES 187/ 6 , desa Rasau, atas restu KUPT waktu itu (Silitonga)
Tiga bulan kemudian, datang kelompok transmigran baru. Dalam kelompok ada 5 KK (Kasro, Darto, Kaniyo, BL. Hariyanto, Saleh, Mariyati)
Th 1980 mulai ada katekumen baru diantara para transmigran 5 KK (Yohanes Petrus Zaini, Yuliana Kriani, Bernadus Trimowardoyo, Theresia Warsiem, Slamet Mulyomiharjo, Jarwi, Atmo Miharjo, Marmi, Jimo, Tumiyem) Mereka dibaptis tahun yang sama oleh Romo Yoseph Korski,
1.2.2. Pamenang B1 (Stasi Gregorius Agung)
1.2.3. Pamenang A3 (Stasi Maria Bunda Allah)
1.2.4. Pamenang A4 (stasi Yohanes Rasul)
Minggu, 28 Oktober 1982, Gereja di Pamenang A4 ada. Gereja dimulai dengan kedatangan rombongan transmigran asal Jawa Tengah (Solo dan Klaten). Dalam rombongan ini tergabung 1 keluarga Katolik (Keluarga bpk FX Sukisno) dan 1 keluarga katekumen (Keluarga bpk Suyoto).
2. Wilayah kota
2.1. Wilayah Sarolangun ( Stasi St. Paulus )
2.2. Wilayah Bangko ( Stasi Ignatius Loyola )
15 januari 1980
Umat Katolik perantauan dari Sumatera Utara, yakni: Bp. M.Sihotang, Bp. GF.Situmorang, Bp. JP.Sihotang, Bp. J Nainggolan (belum membawa keluarganya) tiba didaerah Bangko. Meski mereka umat Katolik, tetapi mengikuti Ibadat di gereja HKBP, sebab belum ada tempat ibadat (gereja Katolik) didaerah tersebut.
1983
Pada awal tahun tersebut Bp. M.Sihotang dipilih menjadi Sintua gereja HKBP, namun Bapak M. Sihotang menolak karena merasa sebagai umat Katholik tidak sepantasnya menjadi sintua HKBP tetapi pihak HKBP selalu memberi tugas kepada Bp. M.Sihotang .
Keluarga Bp. M.Sihotang, Bp.GF.Situmorang, Bp.JP. Sihotang, Bp.J.Nainggolan , Bp. Wr. Haloho, Bp. JD. Sinaga tiba di Bangko dan juga mengikuti ibadat di gereja HKBP. Pada pertengahan tahun 1983 anak dari keluarga Bp.M. Sihotang (Suyanto Sihotang dan Surung Sihotang), Bp. Gf. Situmorang (Elita dan Swandi) menerima pembaptisan di gereja HKBP karena belum ada gereja Katholik Bangko.
Desember 1983
Pada akhir perayaan Natal Beberapa keluarga dari perantauan Sumatera Utara (M. sihotang, GF. Situmorang, JP. Sihotang, J.Nainggolan, Wr. Haloho, JD.Sinaga) mempunyai ide untuk membentuk ibadat sendiri namun kendala belum ada tempat beribadat. Dari beberapa umat katholik tersebut sebagai pengurusnya: Bp.M. Sihotang , Bp. GF. Situmorang, Bp. Wr. Haloho
Tetapi tanpa sepengetahuan dari beliau-beliau Romo Sono Pribadi SCJ (Sebagai Pastur Paroki Muara Bungo) telah pernah mengunjungi Kota Bangko ke rumah Maria Sebagai Umat Katholik dipasar Bawah Bangko, dan memesan pada Maria agar dapat menghubungi umat Katholik dari perantauan Batak yang ada di Bangko agar dapat berkumpul dirumah ibu Maria.
1984
Pada awal tahun tersebut ibu JP.Sihotang, Gf. Situmorang, M. ihotang bertemu dengan ibu Maria di pasar bawah Bangko dan disitu terjadi perkenalan ternyata mereka merasa sebagai umat Katholik maka mereka merencanakan untuk mengadakan pertemuan dirumah ibu Maria sesuai dengan Romo Sono Pribadi,SCJ. Kemudian pada pertengahan tahun 1984 mereka mengadakan pertemuan di rumah ibu Maria yang di hadiri oleh Rm. Sono Pribadi,SCJ dan mereka mengadakan kesepakatan rumah Ibu Maria sebagai tempat beribadat sementara.Dan selama 4 bulan rumah Maria dapat dipakai sebagai tempat ibadat umat Katholik mengalami perkembangan menjadi 16 KK antara lain Kelauarga Bp. Ag.Sukino, Bp.Asni Turnip, Bp.Helmi Turnip, Sahat dolog Sihotang ,Bp.Solo Siagian, Sitanggang, Bp.A.Naibaho, Bp.Hutajulu, Bp. Da Gomes, Bp. A.Manulang. Bp.J.Sialagan.
Mengingat kondisi rumah ibu Maria ditengah pasar dan ramai sehingga kurang kondusif digunakan sebagai tempat ibadat maka tempat ibadat dipindahkan ke pulaurayo kelurahan dusun Bangko (rumah Wr. Haloho)
Maret 1984
Pertemuan/ibadat dirumah Bp.Wr. Haloho kurang lebih berjalan selama 2 tahun , apalagi saat itu ada JUPEN (Suyanto) yang berasal dari B2 Pamenang yang diminta Romo Sono Pribadi SCJ untuk membina umat katholik di wilayah Bangko. Pada perayaan Natal tahun 1984 dan perayaan tahun baru 1985 dapat berjalan denganlancar dirumah Bp. Wr. Haloho.
Awal Tahun 1985
Karena perkembangan umat (20 KK dan jumlah jiwa kurang lebih 60 jiwa) maka umat sepakat untuk menambah ruang ibadat dengan cara bergotong-royang untuk membeli bahan bangunan (kayu dan seng) dan mendirikannya disamping rumah Bp. Wr.Haloho.
Sesudah bangunan selesai dan dapat digunakan ada kunjungan Uskup Yosef Sudhan,SCJ yang kebetulan ada pelayanan di Gereja Santo Paulus Muara Bungo sehingga menyempatkan diri mampir di Bangko (di rumah Wr. Haloho). Bapa Uskup berpesan kepada umat di Bangko agar semakin aktif untuk melaksanakan kegiatan ibadat dan mencari lahan/tanah untuk persiapan pembangunan rumah ibadat.
Pertengahan tahun 1985
Kegiatan ibadat mendapat teguran dari masyarakat setempat, yang isinya bahwa rumah pribadi tidak boleh digunakan sebagai tempat ibadat dan menganjurkan agar menggunakan ibadat di gereja yang sudah ada (HKBP). Namun umat tidak menanggapi secara serius dan masih menjalankan ibadat seperti biasa.
Desember 1985
Sebelum perayaan Natal ada surat teguran dari Pak Lurah Dusun Bangko (M. Daud), yang isinya larangan untuk merayakan natal dirumah pribadi. Pada malam itu juga umat sepakat menghadap pak Lurah dirumahnya memohon agar diperkenankan untuk merayakan Natal dan tahun Baru. Hasil pertemuan itu, Pak lurah M.Daud memperkenankan untuk mengadakan perayaan Natal dan Tahun Baru dirumah tersebut demi keamanan dan kelancarannya ada beberapa Hansip yang bertugas untuk berjaga. Pak lurah juga berpesan agar pelaksanaan ibadat selanjutnya dilaksanakan digereja yang ada (HKBP).
1986
Mulai Januari 1986 Pelaksanaan ibadat dilaksanakan secara bergilir dari rumah ke rumah umat dan Pak lurah menyuruh agar umat untuk melapor ke Koramil kemudian ke kantor camat dan kemudian dari kantor camat disuruh lapor ke Kantor Polisi dan ke Kadepag. Dari hasil laporan semuanya memberi saran agar pelaksanaan ibadat tidak dilaksanakan dirumah pribadi dan anjuran dari Kadepag agar pelaksanaan ibadat dilaksanakan di gereja yang ada pada saat itu (HKBP) Namun Bapak Sihotang sebagai wakil umat katholik mengatakan bahwa Agama Katholik tidak sama dengan Agama Kristen Protestan tetapi Kadepag tetap bersiteguh untuk melarang pelaksanaan ibadat tersebut dan akhirnya Bapak M.Sihotang berkata kepada Kadepag kalau nantinya terjadi kejadian yang tidak inginkan kepada umat katholik akan diserahkan pada Bapak selakukan Kadepag. Jawaban Kadepag kalau begitu pak aku tidak berani maka aku sarankan Bapak menghadap ke Bupati (Rahman Syukur)selaku kepala daerah.
Dari informasi tersebut disampaikan ke Romo Sono Pribadi,SCJ. maka Rm.Sono Pribadi SCJ mengajak beberapa wakil umat (M.Sihotang dan GF.Situmorang) menghadap ke Bupati. Bupati menanyakan pada Bapak M. Sihotang dan GF.Situmorang apa pekerjaannya. Bp.M.Sihotang dan GF.Situmorang menjawab pekerjaan sebagai tukang Kredit/pedagang keliling. Dan juga ditanyakan berapa jumlah umat Katholik yang ada.Lalu Bupati mengatakan kenapa tidak dibangun gereja, Jawaban Bp.M.Sihotang belum sanggup karena umat baru sedikit dan masih baru, kemudian Pastur menimpali jawaban tersebut menyanggupi untuk membangun gereja asal diberi izin untuk membangun rumah ibadat, namun bupati tidak berani memberi izin karena beliau merasa juga sebagai seorang pendatang dan menyarankan agar ibadat dapat dilaksanakan dirumah Bp.M Sihotang di Sungai Mas dengan syarat melapor pada RT,RW, dan lurah setempat (Pasar Atas). Dari hasil laporan tersebut RT,RW,dan Lurah memperbolehkan untuk melaksanakan ibadat dirumah tersebut. Pada bulan Maret 1986 mulai pelaksanaan ibadat dirumah Bp. M.Sihotang disungai mas sampai tahun 1989 secara aman dan lancar. Pelayanan Misa oleh romo Sono Pribadi SCJ sebulan sekali.
Pada tahun 1987 Memilih nama Pelindung gereja Santo Ignatius Loyola
1988
Selama ibadat di sungai mas Rm.Sono Pribadi SCJ membeli tanah didaerah Komplek IBRD Kelurahan Pematang Kandis dari Mat Jugan mantan anggota ABRI seluas 45300 meter persegi pembeli atas nama Bp.Samudro Nugroho.Bapak Mat Jugan Memberi informasi kepada pembeli bahwa Sewaktu pengurusan surat di kantor Lurah terjadi perdebatan antara lurah dengan sipenjual. Kata pak lurah (Abu Bakar Hu) :” kenapa tanah itu kamu jual sama Yayasan xaverius “. Kemudian Jawaban Bapak Mat Jugan: “ terserah mau aku jual kepada siapapun terserah aku”.
Dalam pelayanannya Rm.Sono Pribadi SCJ dibantu oleh Rm.Suratno,SCJ untuk pelayanan di wilayah Bangko.
1989
Pada awal tahun 1989 di bangun rumah atas nama Rm. Suratno SCJ di tanah yang telah di beli di Komplek IBRD dan ada umat yang menunggu rumah tersebut Hendrikus Suyatno, Paulus Boiman dan Al.Budihandoko. Pada pertengahan tahun 1989 terjadi pergantian Rm. Sono Pribadi SCJ ke Rm. Yosef Kurkowski SCJ dan Rm. Suratno SCJ selaku pastur pembantu untuk memberikan pelayanan di wilayah Bangko. Pada akhir bulan September 1989 Rm.Suratno SCJ pindah tugas ke wilayah Lampung. Maka pada bulan oktober 1989 karena keterbatasan Pastur maka wilayah Bangko diserahkan ke Paroki Santo Isidorus Singkut oleh Rm.Yosef Kurkowski SCJ pada Rm.Bambang Fredi Sukowinarno, Pr.
Pada akhir tahun 1989 ibadat sabda /misa Kudus dilaksanakan dirumah Rm.Suratno SCJ yang telah dibangun. Dan Pembentukan Pengurus gereja Ketua Bp.M.Sihotang ,Sekretaris merangkap seksi liturgi Wr. Haloho, dan seksi Kepemudaan Da. Gomes, Pembina ASMIKA Ignotus Luki Situmorang. Seksi Kewanitaan Ibu Solo Siagian.
1990
Pada bulan juni telah dilaksanakan perningkahan Rutnida Sigalingging dengan Marwau Giawa yang dilayani Romo Bambang Fredy Sutarno Pr. Perkembangan Umat bertambah 2 KK (S Sigalingging dan Giawa) dengan jumlah jiwa 10 Orang.
Pada bulan September 1990 Pertemuan MUDIKA Bangko-Muara Bungo dengan mengadakan kegiatan Pekan Olahraga.
1991
Pada tahun 1991 terjadi pergantian Pengurus Ibu-ibu dari Ibu Solo Siagian ke Ibu Sabam Sialagan. Pada tahun yang sama telah dilaksanakan perningkahan Sudin Nainggolan dengan Boru Situmorang oleh Romo Bambang Fredy Sutarno Pr.
1992
Pada tahun tersebut ada kunjungan Uskup Yosef Soudant SCJ dalam rangka pemberian Sakramen Krisma umat stasi Bangko sejumlah 6 jiwa.
Pada tahun tersebut dibentuk kepengurusan stasi ketua Bp.M.Sihotang, sekretaris Wr.Haloho dan Bendahara S.Sigalingging. Terbentuknya kepengurusan tersebut guna kelancaran kegiatan menggereja. Perkembangan Umat bertambah 4 KK (W Simarmata, M Sigalingging, A Saragih dan J Bakara) dengan 14 Jiwa.
1993
Umat bertambah 3 KK (Panjaitan, T Hutagalung dan K Sinaga) dengan jumlah jiwa 9 orang.
1994
Telah dilaksanakan Pernikahan Maruli Sihotang dengan Erika Boru Simbolon, pernikahan Sawardi dengan Boru Ringo-ringo oleh Romo Bambang Fredy Sutarno Pr. tepatnya pada bulan juni.
Perkembangan Umat 2 KK (Y Purwadi, B. Sidauruk) dengan jumlah jiwa 10 orang.
1995
Perkembangan Umat bertambah 3 KK (J Saragih, J Naibaho dan SE Manik) dengn jumlah jiwa 14 orang.
1996
Perkembangan Umat 2 KK (Andreas Totok Alek Maryadi dan Kadri Wijaya Butar-butar) dengan jumlah jiwa 7 orang.
Pada bulan Agustus ada bakti sosial dari latsitarda kegiatannya antara lain: Pendataan Tanah, Pengecatan Gereja Dll. Terlaksananya pembentukan 12 Petugas liturgi yang dibagi menjadi 4 Kelompok, antara lain: M Sihotang, Ag Sukino, WR Sihaloho, P Boiman, Maruli Sihotang, G Simbolon, GR Simbolon, E Manik, S Sigalingging, P Sihotang, Totok Alek Maryadi dan A Saragih.
1997
Pembangunan Gereja dengan diawali peletakan batu pertama Gereja Santo Ignatius oleh Rm. Bambang Fredy Sutarno Pr. Sumber dana dari Swadaya Umat/sistem gotong-royong (tahap pertama sampai pondasi).
1998
Pada bulan Nopember ada kegiatan kunjungan Uskup Monsinyur Alusius Sudarso SCJ dalam rangka pemberian Sakramen Krisma sebanyak 9 Orang.
Perkembangan Umat 4 KK (S Joko Mursito, M Nabariba, D Sinabariba dan J Sihotang) dengan jumlah Jiwa 14 orang. Tahap ke dua Pembangunan Gereja/dinding.
Dan penerimaan Sakramen Perkawinan M Sinaga dengan Boru Manurung. Dan Naik Sijabat dengan nArison GF Sihotang Oleh Romo Bambang Fredy Sutarno Pr.
Pembentukan pengurus Stasi yang baru, diantaranya: Ketua M Sihotang, Sekretaris Totok Alek Maryadi dan Bendahara P Boiman. Seksi Liturgi WR Haloho dan AG Sukino, Seksi Pendidikan D Sinaga, A Saragih, Ketua Ibu-ibu Ignotus Lukiah Boru Situmorang, Pembina Maruli Sihotang, Pembina Areka SE Manik, Seksi Pembangunan Kadri Wijaya, K Sitinjak dan AG Sukino, Seksi Sosial GF Situmorang dan P Sihotang.
Kegiatan Peringatan Santo Pelindung Gereja Santo Ignatius Loyola Bangko dengan mengadakan lelang dalam rangka menghimpun dana untuk pembangunan Gereja Santo Ignatius Loyola Bangko.
1999
Pernikahan AL Budi Handoko dengan W Wati Boru Tambunan
Oleh Rm Bambang Fredy Sutarno Pr. Perkembangan Umat bertambah 4 KK (P Samusir, P Situmorang, Sihar Situmorang dan M Sitanggang Serta F Sihotang) dengan jumlah jiwa 20 orang. Pergantian Rm Bambang Fredy Sutarno Pr oleh Rm Thomas Basiran SCJ. Perayaan Natal Bersama Separoki Isidorus Singkut di Gereja Santo Ignatius Loyola Bangko.
2000
Rm Kedang SCJ dan Frater Imanuel SSCC untuk membantu Pelayanan Rm Thomas Basiran SCJ.
Kemudian kegiatan yang dilaksanakan pembentukan Lingkungan I, II, III dan IV. Adapun Ketua Lingkungan I P Boman, Lingkungan II AG Sukino, Lingkungan III Sitar Sigalingging dn Lingkungan IV WR Haloho.
2001
Kegiatan Paskah bersama se Paroki Isidorus Singkut di Stasi Santo Ignatius Loyola Bangko.
2002
Bulan Oktober telah menerima Sakramen Perkawinan Situa Sijabat dengan Romsi Boru Sihotang Oleh Rm Thomas Basiran SCJ.
Rm. Kedang SCJ pindah ke Papua, sedang Fr.Imanuel SSCC meneruskan belajar di Bandung.
Dan Rm. Thomas Basiran dalam pelayanan di Bantu oleh Rm. F.Suradi SCJ dan Fr. Florentinus Sepiono SCJ.
2003
Pada bulan oktober terjadi pergantian Pastur Paroki Santo Isidorus Singkut dari Rm . Thomas Basiran SCJ ke RM.Paulus Sarmono SCJ
2004
Fr.Florentinus Ditabiskan sebagai Imam membantu Rm.P.Sarmono SCJ. Dan Rm. F.Suradi SCJ pindah ke Papua
Penerimaan Sakramen perkawinan Toga Sijabat dengan Lina Br.haloho oleh Rm.Fl.Sepiono SCJ.
Pemberian nama santo pelindung perlingkungan ;Lingk.I.Santa Maria, link.II.Santo Yosef, Link.III. santo Petrus Kanisius Lingk.IV Santa Theresia.
Mulai pembangunan tahap III pengatapan dari swadaya umat.
2005
Penerimaan sakramen perkawinan Elita Br.Situmorang dengan Daniel Sidauruk oleh RM Fl.Sepiono SCJ
Perkembangan Pembangunan Pengecoran lantai kasar ,
Pemasangan instalasi listrik, plaster bagian dalam dan pemasangan pintu gereja.dan dari swadaya umat.
Pada bulan oktober penerimaan sakramen Krisma oleh Uskup Agung Mgr.Al.Sudarso SCJ. Yang diikuti oleh umat sebanyak 12 jiwa.
2006
Pada bulan September penerimaan Sakramen perkawinan secara dispensasi Fransiska Dwi Utami Br.Simorangkir dengan Jefri Tampubolon oleh Rm.Paulus Sarmono,SCJ.
Pada bulan Nopember diadakan Reorganisasi Pengurus stasi
Ketua.M.Sihotang ,Wakil Ketua S.sigalingging, Sekretaris I. Totok Alek maryadi, Sekretaris II. M.Joko Mursito Sp.bendahara Paulus Boiman , seksi Liturgi Ag.Sukino,dan Mr.Sihotang ,Seksi pendidikan A.Simarmata dan Rosalia Sulastri, Seksi Pembangunan Kadri Wijaya ,Ag.Sukino, S.Sigalingging, Pembina Mudika G.Simbolon, Joko Mursito, Seksi Sosial Gf.Situmorang, P.Sihotang, seksi Ibu-ibu Erika Br. Simbolon,Seksi Kerawam M.JokoMursito, Totok Alek Maryadi.
Perkembangan pembangunan Gereja pemasangan keramik Panti imam. Biaya ini berasal dari swadaya umat.
2007
Pada bulan januari penerimaan sakramen perkawinan Paulus Suyanto Sihotang dengan Br.Samosir oleh Rm.Paulus Sarmono SCJ
Pada bulan Pebruari Penerimaan Sakramen Perkawinan Parulian Situmorang dengan Br.sitio oleh Rm.Paulus Sarmono
Pada Bulan Juli Pelayanan pendidikan Agama Katholik TK, SD, SMP, SMA dilakukan oleh gereja dan Pembentukan Pengurus Komisi Pendidikan Stasi Bangko Ketua: Y.Purwadi, Sekretaris M.JokoMursito, Bendahara Mr.Sihotang, Tenaga Pendidik: Ignatia Widyastuti (Guru SD Klas I-III), Roslina purba (Guru SD Klas IV-V) A.saragih (Guru SD Klas VI)
Dewi Br.Sigalingging (Guru SMP Kelas I-II), Rosalia Sulastri (Guru SMP Kelas III), Dahlan Sinaga (Guru SMA Kelas I-II) dan Totok Alek Maryadi (Guru SMA Kelas III).
Gereja Katolik Singkut pada awal mulanya mendapatkan pelayanan rohani dari berbagai paroki yang ada pada waktu itu, yaitu Paroki St. Theresia Jambi oleh Rm. Theodorus Kooijman SCJ, Paroki St. Paulus Muara Bungo oleh Rm. H. van Lierop SCJ, dan Paroki Penyelenggaraan Ilahi Lubuk Linggau oleh Rm. Lucianus Walczak SCJ, sebelum akhirnya menjadi paroki sendiri (1985).
Dalam perkembangan selanjutnya paroki ini dilayani oleh Pastor Al. Freddy Bambang Sutarno, Pr pada tahun 1990-1999. Pada periode beliaulah pastor yang melayani Paroki Singkut mulai menetap. Beliau kemudian diganti oleh Rm. Thomas Basiran SCJ pada tahun 1999-2003, dan Rm. Paulus Sarmono, SCJ pada tahun 2003 sampai dengan sekarang.
Pelayanan pastoral Gereja Katolik Singkut selama 24 tahun bisa dibagi dalam beberapa fase/periode sebagai berikut:
a. Pada lima tahun pertama (1985-1990; tetapi bisa dihitung mulai 1975), keadaan sarana dan prasarana sangat minim sekali. Sebagai warga transmigran yang baru mereka masih miskin. Maka pastor lebih menitikberatkan pelayanan dengan menghimpun umat Katolik untuk perayaan Ekaristi.
b. Pada lima tahun kedua (1990-1995), pelayanan pastoral masih seperti pada lima tahun pertama, hanya ada tambahan melalui pelayanan karitatif. Misalnya, sejak 1990 (sampai sekarang) umat tiap harinya diminta menyisakan uang dan dimasukkan ke dalam kaleng. Uang itu dikumpulkan pada hari Paska untuk dana solidaritas.
c. Fase berikutnya mulai tahun 1995 di mana karet dan sawit mulai menuai hasilnya. Dampaknya, perekonomian umat mulai membaik. Pada saat itu pelayanan umat mulai berkembang dan selanjutnya dilakukan penataan wilayah dan organisasi paroki.
- 433 kali dibaca